Thursday, March 7, 2013

Masjid Utsman bin Affan

Masjid ini belum sempat kami kunjungi. Hanya saja Amin hodja, pemimpin rombongan MG belgia, menyampaikan bahwa masjid ini terletak tak jauh dari Masjid Umar bin Khattab, kini dipisahkan oleh bangunan hotel yang tinggi. Masjid Usman bin Affan terletak sebelah Utara Masjid Nabawi sekitar 300 meter dari Masjid Bilal. dari Masjid ini tinggal nyebrang ring road sudah sampai ke Pasar Kurma Madinah.

Menurut beberapa informasi, masjid ini tergolong masjid baru, jadi tidak dimasukkan ke dalam masjid yang bersejarah.

wallohu a'lam bish showab

Masjid Umar bin Khattab

sumber gambar : dari sini

Masjid ini terletak di sebelah selatan masjid Abu Bakar As Siddiq dan berjarak kurang lebih 200 meter. Dari Masjid Nabawi bisa dengan mudah mencapainya dengan mengambil jalan arah ke Pasar Kurma (masjidnya terletak di sebelah kanan jalan, sebelum Pasar Kurma). Saat kami berkunjung kemarin, masjid ini sedang dalam proses renovasi.

Ada dua versi certa tentang asal mula masjid ini. Versi yang pertama, dari cerita yang saya dengar dari Amin hodja, pemimpin rombongan MG Belgia. Beliau menyebutkan bahwa Masjid Umar bin Khattab ini didirikan di bekas rumah Umar bin Khattab ra, Beliau adalah sahabat sekaligus mertua Rasulullah (ayah dari Hafsah ra) dan khalifah kedua setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Adapun versi yang kedua, bersumber dari sebuah buku yang berjudul "Historical Mosques in Makkah and Medinah The Past and Present". Di buku ini disebutkan bahwa Masjid ini didirikan sebagai sarana mengingat tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Rasulullah sebagai tempat sholat. Menurut riwayat, Rasulullah SAW pernah sholat Ied di tempat masjid ini didirikan. Begitu pula setelah Rasulullah SAW wafat, Umar bin Khattab ra pun melaksanakan sholat Ied di atas lahan tersebut (yang sekarang dibangun masjid).

Masjid ini dibangun oleh Syamsudin Muhammad bin Ahmad As Silawy sekitar th 850 H. Kemudian bangunan ini pernah direnovasi juga oleh khalifah Sultan mahmud Kedua (th 1254 H) dan putranya, Abdul majid pertama (th 1266 H). Sampai sekarang pun dalam perlindungan pemerintah Saudi. Masjid ini berbentuk persegi dan sisi-sisinya berukuran 8 meter. 

Wallohu a'lam bish showab

Masjid Ali bin Abi Thalib

sumber gambar : dari sini


Masjid Ali bin Abi Thalib terletak sekitar 300 m di sebelah barat laut dari masjid Al Ghamamah.
Ada dua versi certa tentang asal mula masjid ini. Versi yang pertama, dari cerita yang saya dengar dari Amin hodja, pemimpin rombongan MG Belgia. Beliau menyebutkan bahwa Masjid Ali bin Abi Thalib ini didirikan di bekas rumah Ali bin Abi Thalib ra, Beliau adalah sahabat, menantu sekaligus keponakan Rasulullah dan khalifah keempat setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Adapun versi yang kedua, bersumber dari sebuah buku yang berjudul "Historical Mosques in Makkah and Medinah The Past and Present". Di buku ini disebutkan bahwa Masjid ini didirikan sebagai sarana mengingat tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Rasulullah sebagai tempat sholat. Menurut riwayat, Rasulullah SAW pernah sholat Ied di tempat masjid ini didirikan. Setelah Rasulullah wafat, Ali bin Abi Thalib ra pun melaksanakan sholat Ied di atas lahan tersebut (yang sekarang dibangun masjid).

Masjid ini pertama kali dibangun di masa Umar bin Abdul Azis sekitar th 80-an H, kemudian terjadi renovasi dan pembangunan kembali, yang terakhir dilaksanakan pada tahun 1990 M. Masjid ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 31 m x 22 m.

Satu hal yang agak menyedihkan adalah, di sekeliling masjid ini sudah penuh dengan gedung-gedung menjulang, khas bangunan sebuah hotel. Terlalu padat, kesannya. Apalagi masjid ini pun jadi tampak "mungil".

Wallohu a'lam bish showab

Masjid Abu Bakar As Siddiq



Masjid Abu Bakar As Siddiq terletak berdekatan dengan masjid Al Ghamamah (ada yang menyebutkan kurang dari 50 meter jaraknya), atau sekitar 300 meter arah barat daya dari mesjid  Nabawi dan tidak sampai 30 meter dari Masjid Ali bin Abi Thalib ra.

Ada dua versi certa tentang asal mula masjid ini. Versi yang pertama, dari cerita yang saya dengar dari Amin hodja, pemimpin rombongan MG Belgia. Beliau menyebutkan bahwa Masjid Abu Bakar As Siddiq ini didirikan di bekas rumah Abu Bakar Siddiq ra, Beliau adalah sahabat terdekat yang sekaligus mertua Rasulullah (ayahanda dari Aisyah ra) dan khalifah pertama setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Adapun versi yang kedua, bersumber dari sebuah buku yang berjudul "Historical Mosques in Makkah and Medinah The Past and Present". Di buku ini disebutkan bahwa Masjid ini didirikan sebagai sarana mengingat tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Rasulullah sebagai tempat sholat. Menurut riwayat, Rasulullah SAW pernah sholat Ied di tempat masjid ini didirikan. Begitu pula di masa kekhalifahan Abu Bakar ra, beliau juga melaksanakan sholat Ied di atas lahan tersebut (yang sekarang dibangun masjid).

Awalnya tempat ini hanya berupa tanah lapang, pada tahun 80-an H dibangunlah sebuah masjid oleh Khalifah Umar ibn Abdul Aziz untuk mengenang kejadian tersebut. Bangunan masjid ini dibangun kembali di masa Utsmaniyah oleh Sultan Mahmud kedua (1254 H), dan pemerintah Saudi pun hingga kini sempat melakukan beberapa kali renovasi.

Masjid ini berbentuk persegi, di mana setiap sisinya berukuran 9 meter. Masjid ini dibangun dengan batuan basal hitam dan interiornya dicat warna putih. Halaman masjid ini berukuran 13 m x 6 m. Minaretnya yang berada di sudut timur ini memiliki tinggi 15 m.

Wallohu a'lam bish showab


Masjid Al Ghamamah (Awan)



Masjid ini terletak tidak jauh dari Masjid Nabawi, tepatnya 350 m di sebelah barat daya Masjid Nabawi. Untuk menuju masjid Al Ghamamah, kami berkumpul di pintu gerbang no 6C. Dari situ kami melewati sebuah pasar "krempyeng" yang tidak terlalu besar, kemudian tampaklah masjidnya.

Masjid ini diberi nama Al Ghamamah, yang berarti awan. Ada dua versi mengapa masjid ini diberi nama Masjid Al Ghamamah. Versi yang pertama, dari cerita yang saya dengar dari Amin hodja, pemimpin rombongan MG Belgia. Beliau menyebutkan bahwa alasan pemberian nama ini adalah karena di sinilah tempat mangkal-nya awan yang biasa menaungi Rasulullah. Seperti yang kita ketahui dalam siroh, bahwa setiap kali Rasulullah bepergian, maka ada awan yang menaungi beliau. Dan jika beliau sedang berada di rumahnya, maka awan itu berhenti di sini. Ketika Rasulullah wafat, awan itu pun tidak ada lagi. Maka untuk mengingat hal tersebut, dibangunlah sebuah masjid di zaman Umar bin Abdul Azis. 

Adapun versi yang kedua, bersumber dari sebuah buku yang berjudul "Historical Mosques in Makkah and Medinah The Past and Present". Di buku ini disebutkan ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah sholat ‘Ied disini. Pada saat itu Allah memerintahkan awan untuk menaungi Rasulullah dan jama'ah dari teriknya matahari. Awalnya tempat ini hanya berupa tanah lapang, pada tahun 80-an H dibangunlah sebuah masjid oleh Khalifah Umar ibn Abdul Aziz untuk mengenang kejadian tersebut. Bangunan masjid ini dibangun kembali di masa Utsmaniyah oleh Sultan Abdul Majid (1275 H), dan pemerintah Saudi pun hingga kini sempat melakukan beberapa kali renovasi.

Wallohu a'lam bish showab


Tips Mengunjungi Raudhah untuk Muslimah

Rasulullah SAW bersabda, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah (taman) di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196)
sumber gambar : dari sini

Ada beberapa tips yang ingin saya bagi, berdasarkan pengalaman saya sendiri saat mengunjungi Raudhah di musim haji tahun lalu :

1. Ketahui jadwal Raudhah untuk muslimah.

Berbeda dengan jama'ah laki-laki, Raudhah tidak selalu dibuka sepanjang hari untuk para Muslimah. Muslimah hanya diperbolehkan masuk di tiga waktu : Ba'da Shubuh (sampai kira-kira jam 11.00 siang / sebelum Dhuhur), Ba'da Dhuhur (sampai kira-kira jam 14.30 sore / sebelum Ashar), dan Ba'da Isya (sampai kira-kira jam 23.00 malam). Sebagian orang mengatakan kalau jam malam (Ba'da Isya) itu relatif sepi (saya hanya mencobanya sekali sih, dan total lama mengantrinya sekitar satu jam baru bisa mendapat giliran ke Raudhah). Silakan saja dipilih waktu yang paling pas dengan aktivitas kita masing-masing. Kalau saya sendiri, sebisa mungkin mengupayakan sekali sehari (mumpung diberi kesempatan ke Tanah Suci.. :-)) dan seringnya saya mengambil jam siang (Ba'da Dhuhur). Pertimbangannya, hampir setiap hari ada agenda ziarah bersama rombongan MG di pagi hari dan malam hari diupayakan tidak tidur terlalu larut agar bisa bangun lebih awal.

2. Ketahui lokasi berkumpulnya atau pintu masuknya.

Lokasi dari Raudhah ini berada di shaf laki-laki, jadi masih agak panjang perjalannya dari shaf perempuan. Untuk jama'ah muslimah, pintu Masjid menuju raudhah adalah pintu nomor 25 atau 29. Jadi, jika memutuskan akan masuk raudhah, upayakan untuk sholatnya di dekat area pintu tersebut. Misal, ingin masuk Raudhah ba'da Shubuh, maka upayakan sholat shubuh di masjid dengan masuk melalui pintu 25 atau 29.
Sebelum mendapat giliran masuk ke area Raudhah, setidaknya kita akan menjalani tiga kali antrian (based on my own experience). 
Antrian yang PERTAMA, lokasinya di area tempat sholat yang masuknya dari pintu 25 atau 29. Di sini kita dikelompokkan berdasarkan asal negara. Kita tinggal melihat papan nama negara yang dibawa oleh pada asykar muslimah, atau bertanya pada mereka. Setelah itu, kita duduk untuk menunggu giliran dibukanya "pintu masuk" untuk rombongan kita. Tidak perlu ikut berlarian untuk masuk jika kita belum dipersilakan untuk masuk. 
Untuk antrian ini, upayakan jangan sampai tertinggal. Karena pengalaman di hari pertama saya di Madinah, rombongan MG berniat ke Raudhah siang hari ba'da Dhuhur. Saat itu kami berkumpul jam 13.00 di pintu luar no 25 (bukan di dalam masjid). Setelah saling tunggu beberapa anggota yang lain, barulah sekitar pukul 13.30 kami masuk ke dalam masjid. dan ternyata "pintu masuk" sudah tertutup. Meski mungkin mereka yang sudah masuk di dalam itu belum mendapat giliran ke Raudlah, "pintu masuk" PERTAMA ini akan ditutup begitu semua rombongan sudah di antrian berikutnya. Sekali lagi, UPAYAKAN  Sholat fardlu di dalam masjid melalui pintu 25 dan 29, agar bisa langsung mengantri untuk  masuk Raudhah. kalaupun tidak kebagian tempat, dan harus sholat di luar atau lokasi yang lain. Usai sholat, bersegeralah masuk ke dalam masjid dari pintu 25/29 dimana banyak orang yang sedang mengantri.
Jika sudah dibukakan pintu untuk rombongan kita, kita akan dibawa menuju antrian yang berikutnya, yakni antrian yang KEDUA dan KETIGA. Intinya, tidak perlu berebut dan ikuti saja asykar yang membawa tulisan nama negara kita.

3. Ketahui lokasi Raudhah dan ciri-cirinya.

Raudhah merupakan salah satu bagian di dalam Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Raudhah itu sendiri adalah suatu tempat antara rumah nabi SAW dengan mimbar.  Di dalam rumah Nabi SAW, yang juga kediaman Aisyah ra,  itu terdapat makam Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq ra dan Umar bin Khathab ra. Raudhah berukuran 22 m x 15 m. Luasnya yang tak seberapa ini memang tak sebanding dengan banyaknya jumlah jama'ah yang ingin memasukinya. Oleh karena itu dibuat bergiliran dan dibatasi waktunya.

Satu hal yang bisa dijadikan tanda atau pengingat untuk menandai Raudhah adalah karpetnya. karpet di Raudhah ini berwarna hijau muda, berbeda dengan karpet di Masjid Nabawi yang umumnya berwarna merah.

sumber gambar : di-edit dari sini

4. Ketahui ibadah-ibadah yang boleh dilakukan di Raudhah dan apa-apa yang dilarang.

Sebagai salah satu bagian dari Masjid Nabawi, ibadah sholat merupakan satu hal yang boleh dikerjakan di Raudhah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram.” (HR. Muslim no. 1394)

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah, sholat sunnah apa yang boleh dikerjakan? saya belum menemukan dalil yang menyebutkannya secara detail. Jadi, boleh saja melaksanakan sholat Dhuha, hajat, istikharoh, dan lain sebagainya. Hal ini tentu disesuaikan dengan waktu dan hajat kita.
Kita juga diperbolehkan tilawah / membaca ayat-ayat Al Qur'an di sini.
Raudhah juga merupakan salah satu tempat berdo'a yang mustajabah. Jadi manfaatkan kesempatan untuk memperbanyak dzikir dan berdo'a, untuk kebaikan diri, keluarga, juga seluruh kaum muslimin.  Hendaknya kita pun memperhatikan adab berdo'a.  Salah satunya adalah berdo'a dengan menghadap ke arah Kiblat, bukan menghadap makam Rasulullah. Berdo'a pun meminta kepada Allah saja, bukan selain-Nya. Begitu pula dengan dinding rumah rasulullah yang kini berhiaskan kaligrafi atau tiang-tiang dan mimbar, tidaklah perlu mengusap-usap atau menciuminya karena syariat Islam sama sekali tidak memerintahkan yang demikian. Ucapkan saja sebanyak mungkin shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat serta keluarga. 
Hal lain yang perlu diingat juga adalah agar saat kita melaksanakan ibadah yang bersifat SUNNAH ini, jangan sampai kita mendzolimi orang lain -dimana hukum mendzolimi orang lain adalah HARAM-. jangan sampai kita bertengkar, berebut, mengganggu orang lain dan sebagainya.

5. Gunakan waktu saat mengantri atau menunggu giliran masuk Raudhah dengan hal-hal yang bermanfaat.

Saat antri atau menunggu giliran masuk, manfaatkan untuk banyak-banyak bersholawat, tilawah Al Qur'an, dan berdzikir. Niatkan duduknya kita, selama mengantri, untuk beri'tikaf juga. Jangan sia-siakan waktu untuk banyak mengobrol yang tidak perlu, kalau sesekali sih tidak mengapa. memang kita juga harus banyak bersabar, karena tidak hanya satu dua menit kita mengantri, bahkan rekor terlama saya mengantri adalah hampir dua jam. Ujian kesabaran kita diawali di antrian ini, hingga nanti saat di Raudhah.


6. Perbanyak bekal sabar. 

Setiap orang yang akan berangkat ke tanah Suci, pasti selalu diberikan pesan-pesan, baik oleh para ustadz atau orang-orang yang sudah pernah melaksanakannya. Salah satu bekal yang tidak boleh tertinggal dan harus selalu tersedia adalah bekal SABAR. Jangan berlarian ataupun berdesak-desakan untuk memasukinya. Lagi pula kita juga sedang berada di dalam masjid, bolehkah kita berlarian di dalam masjid, layaknya anak-anak? Sabarlah menunggu giliran, in syaa Allah akan tiba waktunya kita bisa masuk.

sumber gambar : dari sini

7. Gunakan waktu singkat di Raudhah dengan ibadah yang khusyu'.

Jika sudah di Raudhah, manfaatkan betul waktu yang singkat ini karena  biasanya kita hanya diperkenankan tak lebih dari 15 menit. Saat berdo'a/berdzikir/bjanganlah berlama-lama karena banyak jama'ah lain yang juga ingin beribadah di sana. Sekali lagi yang perlu kita ingat bahwa beribadah di Raudhah adalah ibadah sunnah, sedangkan mendzalimi orang lain adalah wajib untuk dihindari. Maka secara hukum fikih, sunah dikalahkan oleh yang wajib.
Rasulullah bersabda : "Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah (pembatas, red) dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya." (HR. Muslim)
Sebaiknya Anda masuk ke Raudhah bersama teman, sehingga Anda bisa sholat bergantian. Saat Anda sholat, teman Anda yang menjaga (menjadi pagar atau memberi tahu jama'ah yang lain agar tidak melewati/mengganggu), begitu pula sebaliknya. In syaa Allah akan lebih khusyu ibadahnya.

8. Jangan berpisah dari rombongan.

Jika Anda berangkat bersama rombongan, sebaiknya tidak sampai terpisah dari rombongan. Bisa juga menyepakati tempat berkumpul di luar raudhah dengan sesama teman serombongan, karena biasanya saat di raudhah sangat memungkinkan terpisah dengan teman. Atau jika terpisah, jangan panik dan tanyakan pada petugas, ke mana arah pintu keluarnya kemudian baru hubungi rekan Anda.


9. Senantiasa berdo'a kepada Allah. 

Salah satu hal yang tak boleh terlupakan adalah senantiasa meluruskan niat yang ikhlas mengharap ridlo Allah dan bermohon pada-Nya agar dimudahkan untuk bisa memasuki raudhah, bisa beribadah di sana dengan khusyu dan diijabah do'a-do'a kita.

wallohu a'lam bish showab

Demikian sekilas tips mengunjungi raudlah, khususnya untuk saudari-saudari muslimah. Semoga bermanfaat...

Agenda Rutin di Madinah

sumber gambar : dari sini


Alhamdulillah, bersyukur kami memutuskan untuk berangkat haji bersama rombongan Milli Gorus Belgia. Kegiatan bersama MG cukup memotivasi kita untuk mengoptimalkan ibadah selama di tanah suci. Tidak hanya ketika di Mekkah, saat kami di Madinah pun mereka merancang beberapa kegiatan, di antaranya adalah :

1. Berziarah ke tempat-tempat yang bersejarah bersama rombongan, dengan berjalan kaki dan naik bus.

2. Kita dipersilakan untuk melakukan aktivitas/ziarah sendiri dengan tetap menjaga kontak dengan ketua regu -di luar jadwal kegiatan bersama rombongan-, namun kita juga diingatkan agar tidak lalai akan tujuan utama beribadah di sini. Kita sangat dianjurkan untuk selalu sholat fardlu berjama'ah di masjid Nabawi selama berada di Madinah. Kalau di kalangan jama'ah Indonesia biasanya dikenal dengan istilah "Sholat Arba'in".


Dalam suatu hadits disebutkan bahwa, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang sholat di masjidku ini empat puluh sholat dan tidak tertinggal satu sholat pun (berturut-turut) maka akan bersih (terlepas) dari siksa neraka, lepas dari azab, dan bersih dari kemunafikan’ (HR Ahmad).
Dari hadits ini kemudian muncul istilah arba’in yang berarti empat puluh. Setiap jemaah haji berusaha untuk mendapatkan arba’in di Masjid Nabawi ini. Caranya ialah dengan melakukan sholat fardhu selama 8 hari berturut-turut tanpa putus.
Para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan hadits arba’in ini. Al-Mundziri, seorang ahli hadits mengatakan bahwa perawi hadits di atas semuanya adalah tsiqot (shohih). Ibnu Hajar berpendapat bahwa salah seorang perawi hadits yang bernama Nabith bin Umar diragukan ketsiqotannya oleh sebagian ahli hadits.
Sholat 40 waktu (arba’in) di Masjid Nabawi di atas dapat pula dikaitkan dengan hadits Nabi yang mengatakan bahwa, ‘Siapa yang sholat berjamaah (dengan ikhlas karena Allah SWT) selama 40 hari berturut-turut sejak takbiratul ihram yang pertama, maka dia akan lepas dari kemunafikan’ (Hadits Hasan).
Hadits di atas menjelaskan keutamaan sholat berjamaah pada selain Masjid Nabawi. Kalau di Masjid Nabawi diperlukan 40 waktu, sedang di luar Masjid Nabawi diperlukan 40 hari agar terlepas dari azab Allah SWT. Disamping itu, adanya kesamaan jumlah 40 dalam dua hadits tersebut yang kemungkinan diharapkan dari jumlah itu akan membentuk kebiasaan untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Alhamdulillah, rombongan MG Belgia yang kami ikuti ini, berada di Madinah selama 8 hari. Karena sebagian rombongan yang lain tinggal di madinah kurang dari 8 hari, bahkan ada teman kami dari Belgia juga -yang berangkat dengan rombongan yang lain- hanya tinggal di Madinah selama 2-3 hari. Kami saja yang 8 hari merasa kurang lama, apalagi kalau cuma 2-3 hari. Kami ingin berlama-lama di Masjid Nabawi yang nyaman dan banyak sekali tempat bersejarah yang ingin kami kunjungi. Semoga bisa ke sana lagi...aamiin

3. Untuk jama'ah haji MG yg muslimah, ada beberapa agenda tambahan:

a. Agenda Qiyamul Lail dan Khataman Al Qur'an setiap hari.
Setiap hari selama di Madinah, kita berkumpul di Masjid Nabawi pukul 03.00 (waktu shubuh adalah jam 4 lebih). Setelah berkumpul, kita dipersilakan untuk qiyamul lail sendiri-sendiri, tapi tempatnya berdekatan. Kemudian tilawah sesuai dengan bagiannya masing-masing (biasanya bagiannya telah ditentukan hari sebelumnya, sehingga tidak terlalu memakan waktu. kalaupun tugas tilawahnya sudah selesai, bisa membantu yang lain atau tilawah sendiri). Setelah itu, Seima hodja memimpin do'a khotmil qur'an dan biasanya juga ada yang nitip do'a-do'a tertentu. Pengalamanku selama 8 hari di sana dan melakukan ini setiap hari (kecuali hari pertama, karena pengarahannya baru ba'da shubuh hari pertama), jama'ah haji dari rombongan yang lain salut dengan agenda ini, bahkan ada yang akhirnya ingin ikut bergabung. Subhanalloh... Moga juga bisa diistiqomahkan sepulang haji ini...

b. Berkunjung ke Raudhah.
Jama'ah perempuan memang tidak bisa setiap waktu mengunjungi Raudhah. Ada jadwal-jadwal tertentu yang diperbolehkan. Untuk masuk pun kita harus bergabung di kelompok negara asalnya. Oleh karena itu, MG Belgia, mengajak kita untuk berangkat bersama-sama.

Alhamdulillah, semoga Allah menerima ibadah kita semuanya...aamiin