Saturday, March 23, 2013

Masjid Al Fath (area Khandaq)

berfoto di depan masjid Al Fath

Kami juga diajak berziarah ke sebuah area bersejarah, yang dulunya di sinilah terjadi perang Khandaq. Dalam siroh disebutkan bahwa Perang Khandaq, atau disebut Perang Ahzab atau Perang parit, adalah salah satu peperangan besar di zaman Nabi saw antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin pada tahun 5 H. Ketika itu, kaum muslimin hanya berjumlah 3000 orang, dan harus melawan pasukan kaum musyrikin yang berjumlah 10.000 orang. Kaum muslimin mengambil strategi bertahan di dalam kota Madinah, dengan membangun parit atas usulan Salman Al-Farisi ra di batas utara kota. Adapun sisi lain dari Madinah (selain bagian utara), telah dilindungi oleh gunung-gunung (hal ini bisa kami lihat dengan jelas saat melihat maket kota Madinah di Museum). Adapun kaum musyrikin merupakan pasukan gabungan antara kabilah Quraisy dan kabilah-kabilah musyrikin lainnya di jazirah Arab.

Ketuka disepakati strategi perang kali ini, maka dimulailah pekerjaan menggali parit. Umat Islam bersama Rasulullah saw mulai bekerja membuat parit secara bergotong royong dan saling membantu. Rasulullah saw begitu giat bekerja sehingga umat Islampun semangat melakukannya.

Namun saat itu, kaum munafiqin melakukan upaya untuk memperlambat pekerjaan, mereka kadang lamban bekerja, pergi lalu lalang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas dan bahkan mereka sengaja pergi ke keluarga mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW. Selain itu, ada sebagian umat Islam yang jika terdesak untuk pulang maka dia memberikan wakil dari pekerjaannya dan meminta ijin kepada Rasulullah SAW agar dapat memenuhi hajatnya, dan jika selesai menunaikan hajatnya, mereka kembali lagi pada pekerjaan semula, karena berharap kebaikan di dalamnya dan keridhaan Allah. Dari peristiwa tersebut turunlah Firman Allah SWT, “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nuur:62)

Merekapun mulai bekerja siang malam menggali parit itu. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut serta mencangkul, mengangkat pasir dan seterusnya. Demikian diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya dari Al-Barra` ra: “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada peristiwa Khandaq sedang mengangkut tanah sampai tanah itu menutupi bulu dada beliau. Dan beliau adalah laki-laki yang lebat bulu dadanya. Ketika itu beliau melantunkan syair Abdullah bin Rawahah sambil menyaringkan suaranya: “Ya Allah kalau bukan karena Engkau niscaya kami tidak mendapat petunjuk Tidak bersedekah dan tidak pula shalat. Maka turunkanlah ketenangan atas kami. Dan kokohkan kaki kami ketika bertemu (musuh). Sesungguhnya musuh-musuh telah mendzalimi kami. Bila mereka menginginkan fitnah, tentu kami menolaknya

Begitulah hingga akhirnya, disebutkan dalam salah satu sumber setelah 9-10 hari, mereka mampu menyelesaiakan parit sepanjang 5,5 km, lebarnya 4,62 m, dan kedalamannya 3,23 m. Setelah peperangan berkecamuk hampir sebulan penuh, Allah menurunkan bantuannya dalam bentuk angin topan yang memporak-porandakan kemah musuh.

Di area ini, kini (sayangnya) sudah tidak ada lagi bekas "parit" bersejarah itu. Parit bersejarah itu sudah ditimbun dan kini jadi jalan raya. Yang tersisa adalah enam masjid, tapi lebih terkenal dengan Tujuh Masjid, yang tadinya tenda-tenda pertahanan (saat perang Khandaq) yang kemudian diberi nama sesuai dengan pimpinan di tenda-tenda tersebut, plus satu masjid yang disebut masjid Al Fath (Kemenangan) atau Masjid Jami' Khandaq, Ketujuh Masjid tersebut beradaa di sisi barat Gunung Sila', yakni Masjid Al Fath, Masjid Salman Al Farisi, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar bin Khattab, Masjid Ali bin Abi Thalib, Masjid Utsman bin Affan dan Masjid Fatimah.

plang yang menjelaskan situs Perang Khandaq / Perang parit (7 masjid)

Masjid Salman Al Farisi

Dari peristiwa khandaq ini, banyak hikmah yang kita pelajari, di antaranya :
1. Bagaimana Islam sangat menghargai sebuah ide/pengetahuan, selama tidak bertentangan dengan syariat --> Dicontohkan ketika Rasulullah menerima pendapat Salman Al Farisi yang mengusulkan strategi pertahanan dengan parit.
2. Bagaimana Islam mengajarkan kerja sama dan pola kepemimpinan yang benar  --> Dicontohkan ketika rasulullah bersama kaum muslimin bekerja sama untuk membuat parit, sekalipun posisi Rasulullah pada waktu itu adalah Pemimpin tertinggi kaum muslimin. Beliau SAW tidak hanya sekedar memerintah, tetapi juga ikut serta/terjun langsung.
3. .... (in syaa Allah masih banyak hikmah yang lain yang bisa diambil)

Wallohu a'lam bish showab

Masjid Qiblatain


Masjid ini diberi nama Qiblatain karena masjid ini memiliki dua kiblat.  
Diriwayatkan suatu ketika di bulan Rajab tahun 2 H, Rasulullah SAW sedang sholat di masjid ini (dulu namanya masjid Bani Salamah) dengan menghadap Baitul Maqdis di Palestina, kemudian beliau mendapat wahyu (QS Al Baqarah 144), yang berisi perintah memindahkan kiblat ke Masjidil Haram di Mekah.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 144, Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allahnya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”.

Begitu menerima wahyu tersebut, Rasulullah SAW yang saat itu sedang sholat, langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah untuk melanjutkan shalat dhuhur dengan menghadap Masjidil Haram. Sejak saat itu, kiblat umat muslim berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah).


Wallohu a'lam bish showab

Bukit Uhud






berfoto dari atas bukit para pemanah dan membelakangi makam para syuhada uhud dan 
bukit Uhud (tempat Rasulullah dan sebagian pasukan yang lain bersiaga)

Dalam siroh, kita pasti pernah membaca kisah sebuah perang yang terjadi di tahun ke-3 Hijriyah, yakni perang Uhud. Peperangan yang mengakibatkan banyak syuhada di kalangan muslimin, bahkan mengalami kekalahan. 





Inilah bukit dimana pasukan pemanah bersiaga menghadang pasukan kafir Quraisy yang datang dari Mekah.

Diriwayatkan, ketika akhirnya musuh dapat membobol pertahanan kaum muslimin, yakni pasukan pemanah, akhirnya berkobarlah pertempuran sengit. Musuh pun mencari dan mengejar Rasulullah. Kemudian Rasulullah dan beberapa pasukan yang selamat bersembunyi (gua tersebut ditunjukkan dengan lingkaran berwarna merah muda pada foto).





Peperangan ini membawa banyak korban di kalangan kaum muslimin. Tercatat ada 70 syuhada, termasuk salah satu pembela Islam di garda depan yang sekaligus paman Rasulullah SAW, 
yakni Hamzah bin Abdul Mutholib ra. Di tempat inilah sebagian besar syuhada Uhud dimakamkan.

Bersyukur kami berkesempatan untuk melihat lokasi dimana Rasulullah beserta kaum muslimin berperang melawan kafir Quraisy. Tak sekedar melihat, tetapi juga mencoba merasakan situasinya pada waktu itu (sambil membayangkan gambaran dari siroh yang pernah saya baca), hati pun ikut berdebar dan hanyut dalam suasana syahdu. Amin hodja pun turut memberikan penjelasan tentang perang Uhud dan hikmahnya.

Adapun hikmah yang sempat saya ingat dari uraian beliau adalah:

1. Kita diingatkan kembali tentang kewajiban taat kepada pimpinan, selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat. Dalam peristiwa Uhud, digambarkan betapa kekacauan yang timbul di saat pasukan pemanah tidak mematuhi perintah rasulullah agar mereka tetap berada di bukit (bukit pemanah).

2. Jangan sampai kita tergoda pada "dunia". Jagalah harta abadi yang akan kita bawa hingga di akhirat, yakni agama dan keluarga (termasuk anak). jangan sampai kita menyesal di belakang hari karena kurang "bekal" dan juga tidak mampu mendidik keluarga untuk mengenal Rabb-nya. Perhatikan betul pendidikan anak kita. Jika kita sudah mampu memahami Islam dengan baik, bagaimana dengan anak-anak kita? mengingat tantangan yang dihadapi anak-anak kita semakin beragam. Dalam peristiwa Uhud, digambarkan bagaimana akibat yang dialami oleh pasukan muslim saat sebagian pasukannya "tergoda" pada harta benda.

3. Hendaknya kita menghargai pendapat orang lain. Diriwayatkan, saat akan memutuskan berangkat perang ke Uhud atau tidak, Rasulullah bertanya pada kaum muslimin, dari kalangan muda maupun kalangan tua. Pada akhirnya Rasulullah menyetujui pendapat kaum muda, yakni berangkat perang. Dalm hal ini, Rasulullah menekankan pada logika, sekalipun Beliau SAW mengatahui mana yang terbaik atas izin Allah.

4. Ada 3 sahabat yang kerap diceritakan berkaitan dengan peristiwa Uhud yang juga bisa kita teladani, yaitu:
a. Hamzah ra : Beliau adalah paman rasulullah SAW yang akhirnya syahid setelah berjihad dan menjadi pembela Rasul di garda depan. Kematian beliau mengakibatkan duka yang cukup mendalam bagi kaum muslimin, khususnya rasulullah SAW.

b. Mus'ab bin Umair ra : Beliau adalah duta besar pertama yang diutus oleh Rasulullah berdakwah di Madinah. Diriwayatkan beliau berjuang mati-matian dalam perang ini. Bahkan beliau juga memakai jubah rasulullah (tanpa sepengetahuan Rasulullah) sambil membawa bendera panji Islam. Sampai kemudian orang akfir memburunya, menebas kedua tangan dan kakinya. Allah pun menurunkan malaikat yang diserupakan dengan Mus'ab dan dialah yang kemudian memberitahukan bahwa Mus'ab sudah syahid.

c. Nusaibah binti Ka'ab ra atau Ummu Imarah : Beliau adalah salah seorang wanita yang telah turut serta bergabung dengan 70 orang lelaki Ansar yang ingin berbai’at kepada Rasulullah S.A.W. Dalam bai’at Aqabah yang kedua itu, dia bersama dengan suaminya Zaid Bin Ahsim dan dua orang puteranya Hubaib (yang telah dibunuh oleh Musailamah setelah itu) dan Abdullah (perawi hadith wuduk) telah membuat janji setia kepada Rasulullah S.A.W.Beliau ini juga dikenal sebagai muslimah yang tangguh dan pemberani. Dia turut serta dalam Perang Uhud, Perjanjian Hudaibiyah, Umrah Qadha’, Perang Hunain, dan Perang Yamamah. Diriwayatkan, dalam perang uhud ini pada awalnya beliau ingin ikut sebagai pasukan. tetapi kemudian Rasulullah memerintahkannya menjadi tenaga medis, merawat pasukan yang terluka, rasulullah pun membesarkan hatinya bahwa ia akan mendapat pahala jihad juga. Singkat cerita, ketika peperangan berkecamuk dan semakin memanas, pasukan musuh semakin beringas dalam memburu Rasulullah. Hingga akhirnya Rasulullah pun sampai terluka. Melihat sosok yang beliau cintai terluka, Nusaibah pun akhirnya ikut maju menjadi pelindung Rasulullah, berbekal dengan senjata pisau yang dimilikinya. Melihat keberanian Nusaibah, Rasulullah tersenyum dan mendo'akannya. Bahkan sekalipun ketika dia terluka dan salah seorang anaknya datang disuruh rasulullah untuk merawat lukanya, dia sudah tidak peduli lagi. Dia hanya mementingkan keselamatan Rasulullah SAW. Nusaibah pulang dari perang Uhud dengan 12 tusukan di tubuhnya, dan 1 luka yang sangat parah di bahunya. Atas keberaniannya yang luar biasa itu, Rasulullah berkata kepadanya, “Semoga Allah memberkahi kamu sekeluarga.” Lalu Nusaibah meminta kepada Rasulullah mendoakannya agar dapat bersama-sama masuk surga dengan anggota-anggota keluarga yang syahid pada waktu itu. “Ya Allah, jadikanlah mereka ini sebagai teman-temanku di surga kelak,” demikianlah do'a Rasulullah untuk Nusaibah dan keluarganya. Subhanallah... sedemikian besar pengorbanan yang dilakukan oleh Nusaibah, yang ingin menjadi "tetangga" Rasulullah di surga. Bagaimana dengan kita?? Kita yang memimpikan bisa masuk surga, bisa bertemu dengan Rasulullah atau diakui menjadi salah satu umatnya. Sudahkah kita melakukan sesuatu yang luar biasa dalam menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah? Astaghfirullahal adziim... maluuu pada Nusaibah :'( Yuuk...kita mulai mengenal pribadi beliau SAW dan menghidupkan sunnah-sunnahnya.



Wallohu a'lam bish showab

Pemakaman Baqi'



Aisyah mengatakan bahwa, ketika malam gilirannya, Rasulullah pergi di akhir malam menuju Baqi’ 
dan berkata, “Semoga keselamatan tercurah pada kalian, wahai penghuni rumah kaum mukmin. Kami dan kalian akan bertemu esok hari (hari Kiamat), dan sebagian dari kita akan mengharapkan syafaat dari sebagian yang lain. Insya Allah, kami akan menyusul kalian. 
Ya Allah, ampunilah penghuni Baqi’ Al-Gharqad.” (Sunan As sughra, An-Nasa’i).

Baqi’ adalah nama suatu komplek pemakaman di dalam wilayah Kota Madinah yang terletak di sebelah timur Masjid Nabawi atau jika kita berdiri menghadap arah kiblat, maka Baqi' terletak tepat di sebelah kiri kita. Pintu masuknya terletak di dekat pintu gerbang luar masjid No 36A.

Dalam bahasa Arab, Baqi’ berarti tanah yang luas dan ditumbuhi oleh pepohonan. Tanah ini terdiri dari tanah lembut dan tidak berbatu, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai pekuburan.

Sejak zaman jahiliyah, Baqi’ telah berfungsi sebagai tempat pemakaman jenazah penduduk Madinah (Yatsrib). Setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, tempat itu pun tetap dijadikan sebagai pemakaman umum penduduk Madinah, baik bagi orang Islam maupun Yahudi sampai saat ini. Jamaah haji yang meninggal dunia di Madinah pun dimakamkan di pekuburan Baqi’ ini. Kabarnya pun, areall pemakaman ini sempat mengalami perluasan.

Areal pemakaman Baqi’ sangat terkenal di kalangan kaum Muslimin dan sering diziarahi, terutama oleh jamaah haji dan umrah yang sempat berkunjung ke sana. Hal ini karena di pemakaman tersebut dimakamkan sekitar 10.000 orang sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW.


Di antara para sahabat utama yang dimakamkan di sini ialah Utsman bin Affan ra (khalifah yang ketiga), Abbas bin Abdul Muthalib ra (paman Nabi Muhammad SAW), Abdurrahman bin Auf ra, Sa'ad bin Abi Waqas ra, dan sebagian dari syuhada yang gugur pada perang  Uhud.





 Dari foto di atas, tampak perbedaan batu nisannya, ada yang berupa batu kotak atau batu yang tak berbentuk. Hal ini hanya untuk membedakan antara makam syuhada Uhud (batu nisan kotak) dan makam biasa (batu nisan abstrak).


Ada juga makam Halimatus Sa’diyah ra, wanita yang menyusui Rasulullah SAW dan Shafiyah ra, bibi Rasulullah. Makam salah satu imam madzhab (ahli fiqih), Imam Malik ra, juga berada di sini.

Sedangkan di antara keluarga Nabi yang dimakamkan di sini ialah para istri Nabi seperti Aisyah binti Abu Bakar ra, Ummu Salamah ra, Ummu Habibah ra, Juwairiyah ra, Zainab binti Huzaimah ra, Hafsah binti Umar bin Khathab ra, Shafiyah ra, Saudah binti Zam'ah ra dan Mariyah Al-Qibthiyah ra. Putra-putri Nabi Muhammad SAW juga dimakamkan di sini, yaitu: Ibrahim ra, Zainab ra, Ummu Kultsum ra, Fatimah ra dan juga cucu Nabi, Hasan bin Ali ra.

Melihat banyaknya keluarga Rasulullah (ahlul bait) yang dimakamkan di sini, tidak aneh orang-orang penganut Syiah sering didapati berziarah ke sini. Sayangnya, kini muslimah dilarang masuk untuk berziarah ke pemakaman Baqi'. menurut cerita yang saya dengar dari Amin hodja, pemerintah Saudi memiliki alasan tersendiri. Sebelumnya, muslimah diperbolehkan untuk masuk ke lokasi, tetapi ada sebuah kejadian yang kurang baik (peziarah wanita -yang katanya dari Iran- tidak dapat mengontrol emosinya, meratap, histeris, dsb). Sehingga akhirnya muslimah hanya diperbolehkan berziarah dan berdo'a di pemakaman Baqi' dari luar pagar.

Oleh karena banyaknya para sahabat, syuhada dan keluarga Nabi SAW yang dimakamkan di sini, maka berziarah ke tempat itu menjadi salah satu kegiatan yang dianjurkan bagi jamaah haji dan umat Islam lainnya (yang sedang berkunjung ke Madinah). Manfaatnya, antara lain untuk mengingat dan meneladani perjuangan mereka serta mendoakan bagi keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Menurut riwayat yang diterima dari Abi Syaibah dan diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW setiap awal tahun selalu melakukan ziarah ke pemakaman Baqi’. Setiap berziarah ke sana, beliau mengunjungi makam para syuhada Badar dan Uhud. Dan di situ beliau membaca doa, “As-salamu’alaikum bima shabartum, fani’ma uqba ad-dar. (artinya : Kesejahteraan atas kalian semua atas kesabaran kalian menghadapi peperangan, sesungguhnya surga itu sebaik-baik tempat kembali).” Mengingat keistimewaan pemakaman baqi, yang juga disebut Jannatul Baqi, tidak sedikit dari ulama yang berasal dari luar Madinah, di saat sudah berusia lanjut, mereka memilih tinggal atau menetap di madinah. Dengan harapan, ketika mereka meninggal, mereka akan dimakamkan di Baqi.

wallohu a'lam bish showab


Tuesday, March 12, 2013

Museum Madinah

Ketika sampai di Madinah, kami mendapat jadwal kegiatan selama di Madinah. Ada kegiatan yang menarik... mengunjungi Museum Madinah. Terbayang di benak saya, seperti apakah Museumnya? Apakah seperti museum ala Indo (yang dulu, tampak kurang menarik) ataukah seperti di Eropa (yang cenderung mengemas hal-hal sederhana dengan "wah")? Dan mengapa juga pelaksanaannya terpisah untuk bapak-bapak dan ibu-ibu-nya? Bukan karena apa sih, lebih karena "penerjemah" NL kami adalah bapak-bapak..hehe. Berarti harus cari penerjemah yang lain :-) Hmm.. tebak-tebak buah manggis deeeh... :-)

Pada hari ketiga di Madinah, kami diajak mengunjungi Museum Madinah.Bersama dengan teman-teman muslimah yang lain, kami berjalan kaki dari Masjid Nabawi. Dari pintu gerbang no  37C lurus saja, menyeberang, lalu belok kiri dan belok kanan (semoga ga bingung yaa..). Lalu sampailah kami di sebuah gedung yang bentuknya cukup cantik.

ini nih bentuk gedung-nya, yang saya bilang cantik :-)

Pemimpin rombongan kami mengajak masuk ke gedung ini. Hmm...apakah ini gedung Museumnya? Tapi koq ga ada tulisan Museum-nya ya? yang saya ingat, salah satu plang alias papan nama (di foto tampak plang yang berwarna hijau) yang ada di sana bertuliskan "Saudi Arabian Airlines". Setelah masuk, dugaan saya salah, gedung ini adalah mall. Beraneka toko-toko di dalamnya. What?!#@ Bukannya kita mau ke Museum ya? Oke, kita ikuti saja.

Kemudian kita naik lift menuju lantai 2. Setelah itu berjalan ke arah kiri. Melewati 1-2 toko, sebuah tempat sholat (salah satu kios yang dikosongkan dan digelar karpet-karpet), saya melihat di sisi temboknya ada kertas putih bertuliskan "MUZEYE" (muzeye = museum dalam bahasa Turki).


Setelah itu, mengikuti arah panah saja, sampai menemukan Gapura yang ber-desain ala "benteng pertahanan" dan bertuliskan "Taiba Civilization".


Museum-nya akan kita temui tak jauh dari situ, di sebelah kanan deretan kios-kios yang ada. Ciri khasnya adalah di dinding bagian luarnya terdapat poster-poster tentang sejarah Islam. Temboknya penuuuuh..dengan berbagai poster, seperti tentang Perjalanan hijrahnya rasulullah ke Madinah, Perang Badar, Sejarah kota Madinah, dan lain sebagainya.


Nah begitu masuk, kita langsung melihat aneka souvenir, hiasan dinding, buku (dalam beberapa bahasa, termasuk Turki, Inggris, dan Indonesia), Al Qur'an, CD, dan pernak-pernik lainnya yang dijual. Jadi, bagian depan ini adalah toko yang menjual pernak-pernik khas Madinah (juga Mekah). Saya pun membeli sebuah buku tentang masjid-masjid bersejarah di Mekah dan Madinah (Historical Mosques in Makkah and medinah, The Past and Present) dan sebuah VCD tentang Mekah dan Madinah (yang saya jadikan oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia, karena itu saya pilih VCD yang berbahasa Indonesia).

Setelah melewati toko, barulah kita masuk ke sebuah ruangan, tidak besar sih..mungkin tidak lebih dari 5 x 7 m. Ruangan inilah yang berfungsi sebagai "museum". Tadinya, saya berfikir bahwa Museum yang akan kami kunjungi adalah museum yang dikelola oleh Pemerintah Saudi Arabia. ternyata tidak, (mini) museum ini dibuat berdasarkan riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga, yaitu Taiba foundation. Lembaga ini konon katanya berpusat di Turki, dan memang dikelola oleh orang Turki.

'Ala kulli hal, museum yang tidak besar ini menyimpan banyak hal yang berharga, yaitu SEJARAH ISLAM (khususnya tentang Madinah sebelum Islam datang dan sesudah Islam datang). Saya bersyukur berkesempatan untuk singgah ke sini. Di sini kami dijelaskan tentang kondisi Madinah dahulu dan sekarang (penjelasannya juga melalui maket-maket yang ada, poster, foto-foto, dan data-data hasil riset). Subhanalloh... serasa dibawa terbang ke masa saat Rasulullah masih hidup, kemudian dibawa ke masa kekhalifahan turki Utsmani, dan masa kini.

maket rumah Aisyah ra (dengan skala 1:6)

Satu hal yang membuat saya cukup terkesan adalah saat ditunjukkan maket masjid nabawi, juga rumah istri-istri Rasulullah SAW, termasuk Aisyah ra. Saat melihat maket tempat tinggal Aisyah ra yang juga ditinggali oleh Rasulullah, saya merasakan dengan aura kesederhanaan dan kezuhudan kehidupan Rasulullah, sang Pemimpin umat Islam pada waktu itu. Semoga kita semua bisa meneladaninya...


Wallohu a'lam bish showab



Sunday, March 10, 2013

Pasar Kurma


"KURMA" di Madinah ini sudah terkenal di mana-mana. Bahkan menduduki peringkat pertama oleh-oleh yang diburu oleh peziarah. Rasanya yang enak, jenisnya yang bermacam-macam, harganya yang bervariasi dan khasiatnya yang mantap membuat saya pun tertarik membelinya.

Pada hari ketiga kami di Madinah, kami berkunjung ke Pasar Kurma yang tak jauh dari Masjid Nabawi. Dari Masjid Nabawi kami keluar melalui gerbang no 6A. Kemudian lurus saja dan agak belok sedikit ke kiri, tampaklah deretan toko-toko yang menjual beraneka jenis kurma. Setelah deretan toko itu, barulah tampak "Pasar Kurma". Sekedar informasi, dari arah gerbang 6A tadi jika lurus saja kita bisa menemui Masjid Umar bin Khattab (di sebelah kanan jalan).

Kondisi pasar kurma ini mirip pasar tradisional yang ada di Indonesia. Di sana terdapat banyak toko yang menjual beraneka makanan khas "Tanah Suci". So, tidak hanya KURMA sebenarnya, ada aneka buah-buahan kering / manisan, kacang-kacangan (kacang arab, kacang pistaches, kacang almond, dsb), dan sebagainya.

Masya Allah...ketika ke sini, saya baru tahu ternyata kurma itu buanyaaak sekali jenisnya. Khasiatnya pun luar biasa...

sumber gambar : dari sini

Saat masuk ke dalam pasar, jujur saja saya bingung...mau di beli apa? di toko yang mana? yang murah dan kualitasnya bagus yang mana? *sambil tolah-toleh dan melempar pandangan ke sekeliling* Tapi perasaan itu tak lama, karena sebelum ke sini tadi, kami sudah di-briefing bahwa kami nanti ga usah bingung, tinggal mengikuti Amin hodja saja. Karena beliau sudah punya "kenalan" di sana. Apa pentingnya? ternyata ada pengalaman buruk dari yang lain, yang kadang dicurangin oleh penjualnya, seperti harganya kemahalan atau kualitasnya tidak bagus. Akhirnya beliau mengajak kami ke KIOS nomor 6 dan 26, kedua kios inilah yang sudah menjadi langganan MG karena kualitasnya yang cukup terjaga. Kami pun juga dipersilakan ke kios yang lain, tidak harus ke kedua kios itu, namun beliau mengingatkan juga agar memeriksa barang yang dibeli dengan baik. Oh ya, satu hal yang menyenangkan adalah kami dipersilakan icip-icip...hehe

Setelah mencicipi beraneka jenis kurma...bismillah, akhirnya pun saya memutuskan membeli beberapa jenis kurma, yaitu : kurma Ajwa, kurma mabroom, dan kurma isi kacang almond. Hmm... total semuanya sekitar 5 kg-an lah. Tidak banyak kan? apalagi saya sudah punya 5 kotak kurma Ruthab sukkari, oleh-oleh dari Gus Lukman saat kami pamit meninggalkan Mekah menuju Madinah. Cukup laah... Jangan dibandingkan dengan teman-teman kami di rombongan MG ini. Mereka beli berkardus-kardus kurma :-). Ketika melihat setiap orang rata-rata membeli setidaknya 1-2 kardus besar, saya bisa memahami "pentingnya" saran tempat membelinya dimana. Apalagi ada juga teman serombongan yang sempat "tertipu". Jadi ceritanya, dia membeli 1 kardus di Mekah. Saat mencicipi, kurmanya enak dan bagus kualitasnya. Tetapi, kurma yang dia beli, kualitasnya tidak sebagus yang ia "cicipi". Bahkan kurma yang ada di dalam kardus itu, bagian atasnya tampak bagus-bagus, namun sebagian yang di bawahnya ada banyak yang sudah busuk. Wah...ternyata ada juga yang tidak jujur ya. Hati-hati ya temans...

Wallohu a'lam bish showab

Friday, March 8, 2013

Stasiun Kereta Api Hijaz dan Masjid Al Anbariyyah


Pada hari kedua kami di Madinah, kami diajak berziarah ke beberapa masjid bersejarah. Setelah itu kami diajak ke (bekas) Stasiun Kereta Api. Saya pun jadi berpikir, "mengapa kita dibawa ke sini?" Jujur saja, informasi yang saya dapat tentang stasiun ini sangat terbatas, hanya saya dapat dari buku yang diberi oleh MG dan berbahasa Turki pula. Jadilah sepanjang jalan saya bertanya-tanya dalam hati.

Lokasi Stasiun kereta api ini sekitar 1 km dari Masjid Nabawi. Stasiun kereta api inilah yang digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari Turki ke Madinah pada abad pertengahan. Hal ini dioperasikan terutama untuk mengangkut peziarah Muslim dari ibukota Kekhalifahan Utsmaniyah di Turki ke kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Stasiun kereta dengan arsitektur yang sama dengan ini pun ada di Istanbul (sepertinya saya perlu mengagendakan kunjungan ke Istanbul untuk membuktikan hal ini....:-) *dapat ide cemerlang*).

Amin hodja menceritakan bahwa pembangunan stasiun kereta api ini turut melibatkan (hampir) seluruh umat muslim di dunia. Stasiun kereta api di Madinah itu terkait dengan beberapa stasiun hingga Damaskus yang meliputi beberapa 1760 kilometer. kereta api ini dibangun oleh Sultan `Abd al-Hamid Kedua dan selesai pada tahun 1908. Ada sebagian orang yang pesimis bahwa proyek ini akan terwujud, tapi berkat keterlibatan seluruh umat Islam di berbagai pelosok dunia (khusunya mereka yang berada di bawah kekhalifahan Utsmaniyah), maka terkumpullah dana untuk menyelesaikan mega-proyek ini. Allohu Akbar!

Dalam pembangunannya pun ada satu hal yang menarik. Sebagian rel kereta yang terletak di Madinah diberi bantalan karet sehingga tidak menimbulkan suara yang berisik ketika kereta tiba di Madinah. Mengapa?? Alasannya adalah kecintaan mereka yang sangat besar kepada Rasulullah SAW. Mereka mengetahui bahwa di Madinah ada makam Nabi SAW. Oleh karena itu, mereka tidak ingin "mengganggu" Nabi SAW dengan suara kereta api yang berisik. Masya Allah...sampai sebegitunya mereka menghormati Rasulullah. Sejenak ingatanku melayang kepada apa yang baru saja kulihat saat mengunjungi masjid Abu Bakar, Ali dan Umar beberapa saat yang lalu. Di sekitar masjid-masjid tersebut, yang jelas lokasinya jauh lebih dekat dengan Masjid Nabawi, sedang dilakukan pembangunan hotel-hotel yang menurutku terlalu "mepet" dengan masjid. Bayangkan... Masjid Nabawi dikelilingi oleh hotel-hotel. Bagaimana saat mereka membangunnya? Bagaimana saat menggali pondasinya? Apakah mereka berfikir, Nabi SAW akan terganggu atau tidak? Hmm.. yaa, semoga apa yang terjadi membawa maslahat (meski sambil senyum kecut pada kebijakan pemerintah setempat yang kurang memperhatikan ruang terbuka di sekitar Masjid Nabawi). Selama perang dunia I, kereta api Hijaz dihancurkan oleh kampanye sabotase yang diluncurkan oleh Lawrence of Arabia, 10 tahun setelah pembukaannya.



Kini stasiun ini tidak beroperasi lagi karena Pemerintah Saudi telah menutupnya. Kini, katanya sedang dalam proses negoisasi dari pihak Turki agar stasiun ini boleh beroperasi kembali.

Di sebelah kanan dari Stasiun Kereta Api Hijaz, terdapat sebuah masjid yang cantik meski "mungil", namanya adalah Masjid Al Anbariyyah.


Wallohu a'lam bish showab

Sumber : dari buku Mekke Medine Kitabi (IGMG) dan ini.