Sunday, December 9, 2012

Perjalanan ibadah haji (2)

Perjalanan haji yang (ternyata) singkat...

Labbaik allohumma labbaik
labbaik kalaa syarii kala kalabbaik
Innal hamda wanni'mata laka walmulk
Laa syarii kalak

Dulu, sebelum saya berangkat haji, sempat membaca beberapa buku dan tulisan tentang haji. Saya coba membayangkan bagaimana urutan pelaksanaan ibadah haji itu. Kalau secara teori (syarat, rukun, sunnah, larangan, dsb), insya Allah banyak kita temukan dalam uraian Fiqh haji. Cuma, saya masih belum bisa membayangkannya secara runtut apa yang akan saya lakukan selama di sana. Ditambah lagi jadwal kegiatan di sana belum juga kami dapat dari Milli Gorus. Setelah browsing dan tanya sana-sini, alhamdulillah saya mulai mendapat bayangan apa saja aktivitas saya selama di tanah suci, khususnya saat menemukan skema perjalanan haji dari sebuah blogspot. Ternyata haji itu singkat!

Seusai berganti pakaian ihram (untuk laki-laki saja, sedang untuk perempuan -termasuk saya- sudah memakai pakaian ihram sedari awal) di bandara Istanbul, kami pun diingatkan kembali bahwa nanti niat ihramnya di pesawat. Setelah rehat sejenak di bandara Istanbul, kami melanjutkan perjalanan ke Jeddah.

Sekitar setengah jam sebelum mendarat di bandara Jeddah, kami diingatkan oleh pimpinan rombongan bahwa kita segera melewati miqat, sudah saatnya niat ihram untuk umrah. Labbaikallohumma umrotan. Mengapa umrah?? Tidak lain dan tidak bukan karena haji kita adalah haji tamattu'*, dimana pelaksanaannya adalah umrah dulu baru haji. Setelah berniat bersama jama'ah haji yang lain, dipimpin oleh Ismail hodja (hodja = kyai dalam bahasa Jawa), kami terus melantunkan talbiyah. Usai melantunkan niat ihram, maka mulai berlakulah segala aturan, termasuk larangan-larangan ihram. Tak terasa mata pun basah karena haru, senang sekaligus sedih. Jantung berdebar seperti akan bertemu "kekasih" yang telah lama dirindukan dan diimpikan. Hati tergetar saat mencoba memaknai kalimat talbiyah yang terlantun dari bibir.

Sesampainya di Mekah, setelah istirahat sejenak di hotel, kami bersama rombongan langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan Umrah. Dari hotel yang berjarak sekitar 5 km dari Masjidil Haram, kami mengendarai bus per regu dan memakan waktu sekitar 15 menit. Sesampainya di Masjidil Haram, bergetar tubuh ini memandang Ka'bah, air mata mengalir haru. Kami pun langsung diarahkan untuk melaksanakan tawaf bersama rombongan di lantai dasar. Setiap putaran, saat sampai di multazam, saya mencoba mengarahkan badan ke Ka'bah untuk sejenak melantunkan do'a-do'a special yang ingin saya panjatkan. Saya tidak ingin melewatkan multazam begitu saja, karena ia adalah salah satu tempat yang mustajabah. Seusai tawaf, mengelilingi Ka'bah 7 kali dengan melantunkan do'a dan dzikir yang dibimbing Lutfi hodja (ketua regu kami), kita melaksanakan sholat sunnah dua raka'at di belakang Maqam Ibrahim dan minum air zam-zam. Setelah rangkaian Tawaf usai, kami langsung menunaikan Sa'i. Subhanalloh, sambil berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwa, saya coba menghayati perjungan bunda Siti Hajar untuk putranya, Ismail. Sungguh, bukan jarak yang pendek, tujuh kali pula. Sekilas menggambarkan bahwa betapa besar kasih sayang ibu terhadap putranya. Miss u , ummi sayang....

Seusai tuntas melaksanakan sa'i, kami kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, kami melaksanakan Tahallul, yakni dengan memotong sebagian rambut kita. Artinya, tuntaslah ibadah umroh kita. Kita boleh melepas pakaian ihrom dan "terbebas' dari semua larangan ihram.

Rangkaian ibadah haji dilanjutkan kembali pada tanggal 26 Okt, di hari ke 8 Dzulhijjah. Pagi harinya, sebagian jama'ah haji yang menuju Arafah dengan berjalan kaki, sudah berangkat. Mereka mabit/bermalam di Mina terlebih dahulu, baru keesokan pagi harinya (tgl 9 Dzulhijjah) menuju Arafah. Sedangkan saya, ikut rombongan yang  naik bus. Mulai siang harinya kami sudah mengenakan pakaian ihram lagi plus menyiapkan semua perbekalan kami, bersiap melakukan perjalanan ke Arafah. Tapi ternyata bus baru berangkat menuju Arafah sekitar pukul 19 CET. Dari hotel kami langsung meluncur ke perkemahan di Arafah. Alhamdulillah perjalanan cukup lancar, hanya sekitar satu setengah jam kami sampai di lokasi. Tenda laki-laki dan perempuan terpisah, namun bersebelahan saja. Setelah rehat sejenak, setiap orang boleh memilih tempat yang disoka. Saya bersebelahan dengan Aisya, muslimah asal Rusia yang sudah belasan tahun tinggal di Belgia. Dia-lah yang cukup intensif ngobrol dengan saya selama ini...maklum  kami juga teman sekamar dan sama-sama tidak bisa bahasa Turki...hehe. Sekitar pukul 21.30 CET kami berkumpul, duduk melingkar bersama teman2 CJH asal Belgia yang lain. Seima hodja menjelaskan bahwa malam ini kami akan mengadakan pengajian, nasyid, tilawah, dan muhasabah. Dengan duduk beralaskan karpet yang dialasi tikar, dibawah cahaya rembulan (karena memang lampunya hanya di beberapa titik), saya pun khusyu mengikuti semua rangkaian acara yang berakhir sekitar pukul 24 CET. Selanjutnya kami beristirahat untuk menyimpan aktivitas esok hari, puncak haji yaitu "Arafah day". Alhamdulillah meski hanya di kemah yang sederhana, saya bisa terlelap (agak kecapekan juga siih...hehe).

The big day, 9 Dzulhijjah. Sebelum subuh, sebagian besar jama'ah sudah bangun. Seusai mengantri di WC umum dan mengambil wudlu, saya pun bergegas sholat malam dan dzikir. Cahaya yang temaram, membuat suasana semakin syahdu. Seusai sholat shubuh berjama'ah dan membaca ma'tsurat, saya memilih rehat (lagi) sejenak. Setelah cukup istirahat dan merasa tubuh segar, saya kembali mengambil air wudlu dan sholat dhuha. Setelah itu, saya menikmati bekal yang saya bawa. Sarapan roti plus madu, kurma dan apel. Teman kanan-kiri pun saling menyodorkan makanan bawaannya. Alhamdulillah. oh ya, jama'ah haji yang berjalan kaki dari hotel (dan bermalam di Mina terlebih dahulu) telah sampai di perkemahan di Arafah sekitar pukul 10 pagi. Detik-detik terasa melambat, menjelang Wukuf. Semua jama'ah khusyu menyambut waktu-waktu yang mustajabah. Saya sendiri memilih menyibukkan diri dengan tilawah Al Qur'an dan berdzikir. Sekitar pukul 11 siang, ransum siang tiba. Sekotak snack plus sebotol air minum. Alhamdulillah.Seusai sholat dhuhur-ashar (di jama' taqdim) secara berjama'ah, disambung dengan khutbah Arafah. Sayang sekali...khutbah ini disampaikan dalam bahasa Turki, yang saya mengerti adalah ketika disampaikan ayat-ayat Al Qur'an, hadits atau terlantun do'a. Akhirnya, saya pun memilih berkonsentrasi sendiri untuk tilawah, dzikir, bertaubat, sholat sunnah. Saya tak ingin melewatkan detik-detik ini dengan sia-sia, meski suhu "menghangat", ibadah must go on. Waktu Arafah ini tdk datang dua kali, disebutkan bahwa waktu mustajabah itu dari dzuhur sampai maghrib saja. Beberapa kali suami sempat menelponku, tak lain untuk mengingatkan betapa mustajabahnya waktu ini, duuh....nikmat sekali dianugerahi suami yang sholeh :-) Alhamdulillah, terima kasih ya Robb. Berjuta do'a pun mengalun dari diri yang lemah ini, terbayang pula wajah orang-orang tercinta, sahabat terkasih, orang-orang baik yang telah mencurahkan kasih sayangnya pada kami... Selain panjatan do'a hajat-hajat kami, teruntai pula do'a terbaik untuk mereka. Aamiin yaa mujiibassiiliin
Sekitar pukul 4 sore, ditutup dengan do'a wukuf dipimpin oleh seorang imam. Waktu itu, suasana sangat mengharu biru, terutama saat kami diingatkan kembali pada dosa yang telah kita perbuat, pada pengorbanan kedua orang tua kita, pada cinta Rasulullah untuk umatnya, pada kondisi saudara-saudara kita sesama muslim yang sedang diuji dengan ketidakamanan dan ketidaknyamanan, pada semua nikmat tak terbatas yang diberikan Allah pada kita, pada konsekuensi kita sebagai mukmin...
Seusai do'a wukuf dan kami larut dalam syahdu masing-masing, kami saling berjabat tangan, berpelukan, dan saling mendo'akan semoga Allah menerima ibadah haji kita dan mengabulkan do'a kita. Tadinya kami berencana untuk berjalan kaki menuju muzdalifah, tetapi karena kita mendapat giliran agak belakangan, sekitar pukul 8 malam, kami menuju Muzdalifah dengan mengendarai bus. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai tujuan, setelah itu kami mengikuti arahan dari ketua regu dalam memilih lokasi di Muzdalifah mengingat banyak juga jama'ah dari rombongan yang lain. Selain mabit (bermalam) di Muzdalifah, kami juga mencari batu untuk lempar jumrah keesokan harinya. Saya mengumpulkan tak kurang dari 80 batu, jaga-jaga kalau kami tak bisa melaksanakan nafar awal (untuk nafar awal, batu yang dibutuhkan : 7+21+21 = 49 batu; sedangkan untuk nafar tsani, batu yang dibutuhkan adalah : 7+21+21+21 = 70 batu).

Ba'da Subuh tanggal 10 Dzulhijjah, saya dan rombongan meninggalkan Muzdalifah menuju perkemahan di Mina (oh ya, sebagian rombongan meninggalkan Muzdalifah lewat tengah malam. Mereka langsung menuju lokasi lempar jumroh dan kembali ke hotel). Alhamdulillah sekitar pukul 7 pagi kami sampai di lokasi perkemahan. Tenda kami di Mina terlatak di paling ujung, di border akhir Mina. Kami pun langsung mencari tempat yang kosong dan beristirahat sejenak. Sekitar pukul10.30 kami berangkat untuk melaksanakan jumrah Aqabah bersama rombongan MG-Perancis. Meski cuaca terik siang itu cukup "hangat", keinginan untuk menunaikan rukun haji dan melihat banyak saudara yg juga melakukannya dengan penuh semangat, menjadikan semuanya "sejuk"...alhamdulillah. Sesampainya di lokasi, siang itu tidak terlampai padat. Bahkan kami melempar batu dari bibir sumur (eh koq sumur ya? tapi maksud saya adalah bibir tembok yg mengelilingi tiang yg dilempari batu). Setelah tuntas, kami langsung memisahkan diri dari rombongan dan langsung kembali ke hotel. Perjalanan dari lokasi "jamarat" ke hotel berubah kondisinya. Beberapa hari yg lalu, kami sempat ke sini bersama rombongan MG Belgia, kondisi jalan2nya masih lengang. Sekarang... Masya Allah, penuh sesak, di beberapa trotoar pun dipenuhi tenda-tenda dan di bukit-bukit batu itu juga ada beberapa yg menempati, seperti tak peduli lagi dengan keselamatannya. Saya hanya bs berdecak kagum dengan keberanian mereka. Sesampainya di hotel, kami tidak langsung melepas pakaian ihram, kami menanyakan tentang hewan qurban (dam bagi jama'ah haji tamattu), sudah disembelih ataukah belum. Tak lama kemudian, kami dikabari bahwa hewan qurban kami telah disembelih, maka kami melakukan tahallul awal dengan memotong (sebagian) rambut. Alhamdulillah...sejak itu kami diperbolehkan melepas pakaian ihram. Seusai bersih diri,  sholat dhuhur dan makan siang (alhamdulillah...akhirnya "bertemu" dengan nasi lg setelah dua hari ini makan kurma, roti dan buah...hehe). Kemudian kami rehat sejenak, mengumpulkan kembali kekuatan, sebelum kembali ke Mina. Seusai sholat maghrib, barulah kami berangkat untuk mabit di Mina (malam pertama). Sesampainya di tenda, kami langsung mencari barang-barang yang kami tinggal pagi tadi. Alhamdulillah ada...tetapi, ternyata sbagian besar tenda masih sepi, teman-teman dari MG Belgia yg lain pun belum ada yang datang. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari tenda yang "berpenghuni" setelah mengabarkan itu ke Semra, salah satu teman dari MG Belgia agar mereka tidak mencariku. Tak butuh waktu lama, saya -yang masih didampingi suami untuk mencari tenda perempuan yang sudah "terisi"- berjumpa dengan rombongan MG dari Belanda. Singkat cerita, mereka menawarkanku untuk tinggal di tenda bersama mereka. Alhamdulillah..mereka menyambutku bak tamu agung, dipersiapkan kasur tipis, selimut dan bantal, serta aneka makanan dan buah-buahan. Akhirnya malam itu saya bermalam bersama mereka yang baik hatinya.

Keesokan harinya, sebelum subuh kami sudah meninggalkan tenda untuk kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, masih belum masuk waktu Subuh. Sore hari, ba'da ashar, kami ikut rombongan MG Belgia berangkat dari hotel menuju jamarat untuk lempar jumrah ula, wustha, dan aqabah. Saat mulai masuk di lokasi jamarat, kepadatan semakin luar biasa, jalannya merambat pelan. Seusainya, saya dan beberapa orang memisahkan diri dari rombongan (sebagian besar kembali ke hotel) untuk menuju Mina, kami akan mabit di Mina lagi (malam kedua). Malam ini saya bermalam dengan teman-teman dari MG-Belgia, karena teman-teman dari Belanda masih belum datang. Malam ini saya harus istirahat cukup mengingat saya berencana melaksanakan tawaf ifadhah besoknya.

Tepat jam 1 tengah malam, di saat teman-teman baru mulai terpejam atau sebagian yang lain sedang berada di alam mimpi, saya, suami dan pak Gerrit keluar dari Tenda untuk berangkat ke Masjidil Haram. Suami memprediksi kalau kita berangkat tengah malam, maka belum terlalu banyak orang dan perjalanan pun relatif lancar karena jalanan masih agak sepi (agak sepinya itu tetep ramee...hehe, tp tdk sampai berdesak-desakan). Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam (Mina-jamarat 1 jam dan Jamarat-Masjidil Haram 1 jam). Alhamdulillah...akhirnya sampai jg di masjidil Haram. Kelegaan ganda karena sekaligus mengobati rindu setelah beberapa hari tak berjumpa dengan Baitullah. Sekitar pukul 3.30 kami mulai tawaf Ifadhah di lantai 3. Alhamdulillah...lengaaang sekali, kami dapat menikmati perjalanan tawaf ini dengan tanpa berdesak-desakan. Seusai tawaf, kami tidak langsung sa'i, rehat sejenak sekaligus bersiap untuk melakukan sholat Shubuh. Ba'da Shubuh, kami melanjutkan lagi dengan Sa'i. Alhamdulillah, meski kaki terasa tak lagi menapak...hehe, hebat kaan? akhirnya kami bisa menuntaskan ini semua. sambil menangis haru kami berdo'a dan memanjatkan syukur. Usai istirahat sebentar, kami keluar dari masjid. Masya Allah...suasananya berbeda jauh dengan saat kami datang. Saat melewati tempat sa'i, padeeet betul. Orang-orang pun berjejal masuk ke masjid. Bravo suamiku! prediksinya tepat, meski harus berangkat tengah malam...tp tidak terlalu ramai. Kami pun melanjutkan perjalanan...berjalan kaki untuk kembali ke hotel. Saat melewati terowongan untuk pedestrian (Masjidil Haram-Jamarat), luar biasaaa...dua terowongan yang ada semuanya penuh dengan manusia yang berlawanan dengan kami, berjalan menuju Masjidil Haram. kami hanya "disisain" sebuah trotoar untuk jalan. wah...sepertinya tak lama lagi masjidil Haram ditutup, seperti beberapa hari yang lalu, seperti kata teman-teman. Segali lagi syukur yang terucap. Setelah lebih dari 1,5 jam perjalanan, kami sampai di hotel. Sepanjang perjalanan, kaki kiriku sudah terasa agak sakit. nah, sesampainya di hotel saya pakai istirahat. Tapi, nyerinya belum hilang kalau digerakkan. Gerakan sholat pun, khususnya saat duduk, tidak bisa saya lakukan dengan sempurna. Kami berupaya untuk melakukan nafar awal, yang artinya kami harus tuntas melaksanakan jumrah hari ini dan keluar dari Mina sebelum waktu Maghrib. Belajar dari kemarin, dimana rombongan MG Belgia berangkatnya terlalu sore, kami memutuskan untuk berangkat lebih awal. Dengan penuh semangat, meski kaki tertatih-tatih, sejak Dhuhur kami bersiap, kalau-kalau ada rombongan MG yang berangkat jumrah. Akhirnya saat jam menunjukkan pukul 13.40 ada rombongan MG Belanda berangkat. Saya pun berpesan agar nanti jalannya pelan-pelan, dan sebagainya. Hmm..setelah mempertimbangkan berbagai hal, suami meminta saya kembali ke hotel. Suami nanti yang akan mewakilkan lempar jumrah saya. Saya berupaya bernegosiasi, tapi ga bisa, karena kemungkinan kondisi di jamarat akan ramai...penuh dengan orang-orang yang ingin melaksanakan nafar awal. Akhirnya saya pun kembali setelah menyerahkan "batu-batu"untuk jumrah ula-wustha dan aqabah saya. Alhamdulillah...sekitar pukul 4 sore, suami sudah sampai kembali di hotel. meski lelah, dengan senyum lebar...kami bersyukur, karena tuntas sudah rangkaian ibadah haji. Tinggal tawaf wada' nanti sebelum meninggalkan Mekkah.

Allohummaj'alhu hajjan mabruro wa sa'yan masykuro...aamiin

Hmm. berarti sebenernya haji itu "hanya" memebutuhkan waktu beberapa hari. Lantas...apa yang kami lakukan selain rangkaian kegiatan itu?? padahal kami stay di Mekkah selama 20 hari, apalagi jama'ah haji Indonesia (reguler) yang tinggal selama sebulan di Mekkah. Ngapain aja yaa??

Nah kegiatan kami selain yg wajib-wajib** itu, alhamdulillah...cukup beragam. Setiap hari, kami usahakan sholat di MH. Tadinya, dalam sehari, kami bisa melaksanakan lebih dari 1 kali tawaf. Namun setelah kaki terasa agak gempor, kami menguranginya dan menggantinya dengan memperbanyak sholat sunnah, tilawah, dan dzikir. Pokoknya kami seperti tidak ingin melewatkan waktu sedikit saja untuk tidak di MH...sayaaang euy. Belum lagi, kalau sesekali melihat ka'bah, hati terasa adeeeem.... Subhanalloh!
Selain itu, kami juga melakukan ziarah ke beberapa tempat bersejarah, seperti : MasjidSajarah, pekuburan Ma'la, Masjid Jin, Jabal Nur (Gua Hira), Jabal Tsur (Gua Tsur), Jabal Rahmah, Masjid Aqabah, Mina, Arafah, Muzdalifah, lokasi Jamarat. Insya Allah cerita tentang ziarah ini menyusul yaa, stay tune di sini....

* Macam haji berdasarkan pelaksanaannya ada 3 :
 1. Haji Ifrad : niat ihram untuk Haji
 2. Haji Qiran: niat ihram untuk Haji dan Umroh bersamaan
 3. Haji Tamattu' : niat ohram untuk Umrah dahulu, kemudian Ihrom lagi untuk Haji (tanggal 8 Dzulhijjah)

** Rukun Haji : Ihram, Wukuf di Arafah, Tawaf Ifadah, dan Sa'i
Wajib Haji : Ihram dari miqat, Wukuf di Arafah hingga terbenam matahari, Mabit di Muzdalifah, Tawaf Wada', menggundul atau memendekkan rambut/ Tahallul, Mabit di Mina, Melontar jumrah
Barang siapa yang meninggalkan rukun, maka hajinya tidak sah. Barang siapa yang meninggalkan wajib, maka dia harus membayar dam dan hajinya tetap sah.

No comments:

Post a Comment